Selasa, 16 September 2014
at kos baruku
at kos baruku
Prolog
Apapun
yang Aku
inginkan harus tepat dan cepat aku dapatkan. Aku sangat dominan,
otoriter dan
keras kepala. Aku sekarang kuliah dan duduk di semester dua. Sampai
lupa, Aku
belum memperkenalkan diriku. Namaku Nisa, mataku bulat dan hitam penuh.
senyumku menawan, berambut lurus panjang, berkulit putih bersih.
Aku merupakan anak tunggal dari keluarga berkecukupan. Orang tuaku pengusaha Batik dan mereka sangatlah sibuk. Mereka terbiasa memanjakanku dengan barang-barang mewah dari luar negeri, karena sering melakukan pameran dan seminar tentang Batik khas Nusantara. Walaupun mereka memanjakanku dalam segi materi, tetapi mereka tidak pernah mengingat hari ulang tahunku. Memang terdengar aneh. Pernah ulang tahunku dirayakan, tetapi itu berkat usulan Tanteku Diana yang justru mengingat hari ulang tahunku, perhatian Tante Diana tidak lain dan tidak bukan karena Beliau tidak mempunyai anak dari perkawinannya dengan Om Wisnu, namun begitu hubungan rumah tangga mereka baik-baik saja. Orang tuaku sendiri sibuk menghandle bisnis keluarga yang telah diwariskan Kakek buyutku. Perhatian mereka selalu tertuju pada kemajuan bisnis industri Batik yang puluhan tahun digeluti. Terlebih Batik sekarang semakin digemari di kancah Internasional. Oh iya, Aku berasal dari Kota Solo, namun sekarang Aku melanjutkan kuliah di Jakarta, di sana aku ngekos agar bisa mandiri dan mampu mengurangi sifat manjaku.
![]() |
Sketsa wajah Nisa |
Aku merupakan anak tunggal dari keluarga berkecukupan. Orang tuaku pengusaha Batik dan mereka sangatlah sibuk. Mereka terbiasa memanjakanku dengan barang-barang mewah dari luar negeri, karena sering melakukan pameran dan seminar tentang Batik khas Nusantara. Walaupun mereka memanjakanku dalam segi materi, tetapi mereka tidak pernah mengingat hari ulang tahunku. Memang terdengar aneh. Pernah ulang tahunku dirayakan, tetapi itu berkat usulan Tanteku Diana yang justru mengingat hari ulang tahunku, perhatian Tante Diana tidak lain dan tidak bukan karena Beliau tidak mempunyai anak dari perkawinannya dengan Om Wisnu, namun begitu hubungan rumah tangga mereka baik-baik saja. Orang tuaku sendiri sibuk menghandle bisnis keluarga yang telah diwariskan Kakek buyutku. Perhatian mereka selalu tertuju pada kemajuan bisnis industri Batik yang puluhan tahun digeluti. Terlebih Batik sekarang semakin digemari di kancah Internasional. Oh iya, Aku berasal dari Kota Solo, namun sekarang Aku melanjutkan kuliah di Jakarta, di sana aku ngekos agar bisa mandiri dan mampu mengurangi sifat manjaku.
Kos Nisa
'Nis, Nisa, Kamu
mau makan apa? Ayo cari makan bareng atau kamu mau nitip saja sama Aku? Pumpung
Aku mau keluar nih sama Anggie. Kita juga mau mampir minimarket nanti', seru
Desi dari balik pintu kamarku.
'Enggaklah Des,
Aku hari ini mau makan di Cafe saja. Lagi pula, kalian pasti makan penyet malam
ini. Dan kamu tahu kan, Aku alergi dengan penyetan yang serba minyak itu, belum
tentu makanan tersebut higienis dan cocok di dalam perutku ini', jawabku
sekenanya.
'Okelah Nis, Aku
tahu kok. Iya sudah kalau begitu. Aku keluar dulu ya, pintu gerbang tidak aku
kunci', ucap Desi sambil menuju kamar Anggie yang berada di lantai bawah.
'Iya Des,
jawabku sekenanya', sambil BBM-an.
Setengah jam ber BBM ria dengan Mega dan Galuh sahabatku, yang ternyata
menolak ajakan makan malam denganku, mereka menolak ajakanku karena mereka asik
pacaran, tepatnya double date. Tak lama Aku meluncur ke Cafe favoritku yang
biasa Aku sambangi saban harinya di Jalan Kemang. Setelah memarkir motor matic-ku,
Aku memesan meja no 9 yang menjadi tempat favoritku sampai pelayan Cafe hafal
sebelum Aku sempat memesannya. Sambil berjalan perlahan-lahan menuju tempat
favoritku itu, Kak Eros tiba-tiba menyapaku dari meja sebelah.
'Hai Nis, sendiri saja', sapa Kak Eros ramah sembari tersenyum.
'Eh, Kak Eros. Ngagetin Nisa saja. Iya nih Kak, Nisa sendirian', jawabku.
'Lah dua sahabatmu, si Mega dan si Galuh kemana? Biasanya kalian
runtang-runtung bertiga, lebih-lebih di Cafe favoritmu ini', tanya Kak Eros yang
sedikit *kepo hari ini.
'Mega sama Galuh lagi nonton sama pacarnya, ada gala premier malam ini',
jawabku sambil duduk berhadapan dengan Kak Eros.
'Lah Kamu ndak
diajak apa ?! Kan mereka sahabat Kamu', tanya Kak Eros.
'Kakak nyindir
apa tanya hayo ?! Kakak kan tahu, kalau Nisa seumur2 belum pernah pacaran',
jawabku mulai bersungut-sungut manyun kaya bebek.
'Iya maaf, kirain
status jomblo abadi Kamu udah lepas sejak dekat sama Yuda', ledek Kak Eros sambil
cengengesan melihat ekspresi lucuku.
'Idih', gerutuku lagi.
'Iya udah, daripada bete berkepanjangan. Gimana kalau malam ini, Kakak
temenin Kamu makan malam, Aku gak tega liat Kamu makan sendiri, hahahaha' ledek
Kak Eros sambil menatap wajahku dalam-dalam sambil nyengir kuda.
'Oke deh, terserah Kakak saja', jawabku sekenanya namun hatiku berbunga-bunga.
Sambil membolak-balikkan menu di atas meja. Pilihan makananku
malam ini jatuh pada sop buntut dan jus Strawberi menu andalan Cafe ini,
sedangkan Kak Eros cuma memesan soft drink dan kentang goreng.
Mungkin sebelum nangkring ke Cafe ini, Kak Eros sudah makan dulu di rumahnya. Sepuluh menit kemudian pesanan kami pun diantar dan kami langsung memakannya. Kami saling berbincang membicarakan kuliah perdana, karena sudah dua bulan kampus libur semester. Kak Eros adalah kakak kelasku di SMA dulu, tubuhnya tinggi dan kekar mungkin karena dia sering fitnes dan rajin renang, rambutnya rada kriting, alisnya tebal, tajir, senyumnya manis sekali dijamin para wanita klepek-klepek dibuatnya, dulu dia pernah menyatakan perasan cintanya kepadaku, aku pun sempat menyukainya tetapi karena kata mama dan papa aku harus fokus sekolah dulu, namun mama dan papaku tahu betul latar belakang keluarga Kak Eros yang terpandang dan selevel dengan keluargaku, dengan pertimbangan itu akhirnya, aku pun menolak ajakan kak Eros untuk berpacaran. Walaupun Kak Eros pernah aku tolak cintanya, tetapi perhatiannya padaku tak pernah luntur. Sempat dia berusaha mendekati wanita lain yang satu kelas dengannya setelah patah hati karenaku, ternyata wanita itu hanya mempermainkannya dan hanya memoroti uangnya saja. Tapi sampai sekarang tak ada kebencian di hati Kak Eros terhadap wanita itu, dia hanya menganggap itu akibat dari kekayaan orang tuanya selama ini yang hampir di ketahui seantero kota ini, iya maklum saja ayahnya adalah pengusaha batu bara dan ibunya anggota dewan, hampir sama denganku orang tuanya pun sibuk, Kak Eros pun merupakan anak tunggal, tetapi orang tuanya tak pernah lupa dalam memberikan perhatian dan kasih sayang sepenuhnya kepada Kak Eros. Namun demikian Kak Eros mandiri, dia memulai bisnis berjualan makanan ringan sejak awal kuliah di Jakarta, walau modalnya berasal dari kedua orang tuanya, namun bisnis kecil-kecilan itu sekarang berkembang pesat hingga mampu menggaji 20 karyawan dan mempunyai 5 gerai di beberapa kampus di Kota Jakarta. Kami masih asik berbincang mengenang masa-masa SMA dahulu, tiba-tiba HP ku berdering dan membuat obrolan asikku dengan Kak Eros berhenti mendadak.
Mungkin sebelum nangkring ke Cafe ini, Kak Eros sudah makan dulu di rumahnya. Sepuluh menit kemudian pesanan kami pun diantar dan kami langsung memakannya. Kami saling berbincang membicarakan kuliah perdana, karena sudah dua bulan kampus libur semester. Kak Eros adalah kakak kelasku di SMA dulu, tubuhnya tinggi dan kekar mungkin karena dia sering fitnes dan rajin renang, rambutnya rada kriting, alisnya tebal, tajir, senyumnya manis sekali dijamin para wanita klepek-klepek dibuatnya, dulu dia pernah menyatakan perasan cintanya kepadaku, aku pun sempat menyukainya tetapi karena kata mama dan papa aku harus fokus sekolah dulu, namun mama dan papaku tahu betul latar belakang keluarga Kak Eros yang terpandang dan selevel dengan keluargaku, dengan pertimbangan itu akhirnya, aku pun menolak ajakan kak Eros untuk berpacaran. Walaupun Kak Eros pernah aku tolak cintanya, tetapi perhatiannya padaku tak pernah luntur. Sempat dia berusaha mendekati wanita lain yang satu kelas dengannya setelah patah hati karenaku, ternyata wanita itu hanya mempermainkannya dan hanya memoroti uangnya saja. Tapi sampai sekarang tak ada kebencian di hati Kak Eros terhadap wanita itu, dia hanya menganggap itu akibat dari kekayaan orang tuanya selama ini yang hampir di ketahui seantero kota ini, iya maklum saja ayahnya adalah pengusaha batu bara dan ibunya anggota dewan, hampir sama denganku orang tuanya pun sibuk, Kak Eros pun merupakan anak tunggal, tetapi orang tuanya tak pernah lupa dalam memberikan perhatian dan kasih sayang sepenuhnya kepada Kak Eros. Namun demikian Kak Eros mandiri, dia memulai bisnis berjualan makanan ringan sejak awal kuliah di Jakarta, walau modalnya berasal dari kedua orang tuanya, namun bisnis kecil-kecilan itu sekarang berkembang pesat hingga mampu menggaji 20 karyawan dan mempunyai 5 gerai di beberapa kampus di Kota Jakarta. Kami masih asik berbincang mengenang masa-masa SMA dahulu, tiba-tiba HP ku berdering dan membuat obrolan asikku dengan Kak Eros berhenti mendadak.
'Kring, kring, kring' HP ku berbunyi, ternyata Yuda meneleponku.
Ntah ada apa Yuda meneleponku malam ini, Dia ingin bertemu denganku, dari nada
suaranya dia sedang bersedih dan ingin berkeluh kesah denganku.
'Oke Yuda, setengah jam lagi aku sampai di rumahmu. Kamu tenang saja,
aku ke sana sendirian kok, iya Kak Eros nanti pulang kosan. Katanya ada tugas
kuliah yang belum kelar', jawabku sambil menutup telpon dari Yuda di seberang
sana.
'Kak Eros, maaf iya. Nisa barusan ditelpon Yuda, Dia lagi butuh
bantuan, katanya dia mau curhat sama aku, lagi galau gitu deh, tapi ndak tau
kenapa', ucapku buru-buru sambil membayar bill makan malamku, kali ini aku
yang mentraktir Kak Eros makan malam.
'Eng, iya deh Nis. Kamu hati-hati iya, kalau Yuda macem-macem sama
kamu, kamu bisa telpon aku, HP ku 24 jam non stop buat kamu', jawab Kak Eros sambil tersenyum.
'Hehe, iya Kak Eros', jawabku sambil berlalu tanpa berpanjang
lebar bicara.
Menuju parkiran, pikiranku masih melayang, mencoba mengingat-ingat
apa saja ucapan Yuda kepadaku, yang bilang bahwa Dia akan meninggalkan
Indonesia dalam waktu dekat ini, ntah apa yang menyebabkan itu terjadi, tetapi yang
harus aku lakukan sekarang harus cepat sampai rumahnya saat ini juga. Ku laju
motor matic-ku dengan kecepatan penuh, karena perjalanan menuju rumah Yuda
disambut gerimis. Ntah gemiris ini sebuah firasat atau hanya kebetulan semata.
Ah, abaikan ! !
'Ting tung' suara bel rumah Yuda yang berkali-kaliku tekan.
'Iya sebentar. Eh, Non Nisa, ayo silahkan masuk', jawab Bik Inah
pembantu Yuda dengan suara ramah sambil membuka pintu rumah dan memintaku segera masuk. Beliau adalah pembantu senior di sini,
disebut senior karena pasti ada yang Junior, ah sudahlah, kita fokus lagi pada
Yuda yang sedari tadi belum ku temukan batang hidungnya.
'Bik, Yuda sekarang di mana? Dia kenapa Bik, kok dari suaranya ditelpon
tadi dia sedang sedih', aku mencecar pertanyaan pada Bik Inah.
'Den Yuda Non, Den Yudanya lagi sedih Non, maklum Tuan meminta Den
Yuda buat pindah ke Ausy besok pagi, buat nungguin Nyonyah yang lagi berjuang
melawan kanker. Sekarang Den Yuda lagi di kamarnya, sedih karena takut dengan
kondisi Nyonyah yang sangat mengkhawatirkan', jawab Bik Inah seraya mengusap
air matanya yang mulai menetes dan membasahi pipinya.
'Astaghfitulloh, tante Liliana. . Tante Liliana kenapa Bik'?, jeritku.
Sembari berlari, aku pun menuju kamar Yuda yang berada di lantai
dua rumahnya, Bik Inah yang menunjukkan letak kamar Yuda kepadaku, walaupun aku
dan Yuda sahabat sejak kecil, namun ini kali pertama aku menyambangi kamarnya,
maklum dia pria dan aku wanita, kalau berdua di kamar nanti akan menimbulkan
fitnah yang berkepanjangan.
'Yuda, Kamu ndak apa-apa kan, apa yang terjadi pada Tante'? ,
tanyaku sembari memandangi Yuda yang murung.
'Nis, Mamaku keadaanya sangat memprihatinkan, Aku harus selalu
memantau keadaannya setiap detik, ini saran Papa kepadaku, barusan Papa
telpon dari Ausy. Papa tidak sanggup menunggui Mama sendirian di sana, yang
saat ini belum ada perkembangan yang berarti, Mama masih tergolek lemah di
rumah sakit', ucap Yuda yang mulai terbata-bata.
'Lalu, apa yang akan kamu lakukan saat ini Yud, apakah aku bisa membantumu'?,
tanyaku sambil menggenggam tangan Yuda yang mulai gelisah seraya menenangkan
pikirannya yang mulai kacau.
'Nis,
kamu cukup menenangkan pikiranku, mendengarkan keluh kesahku
saat ini, aku tak mampu membendung kesedihanku saat ini agar aku kuat
menghadapi
kemungkinan-kemungkinan terburuk yang terjadi pada mamaku, besok pagi
aku akan berada di Ausy nyusul Papa dan besok aku berangkat jam 9
pagi dari Jakarta', ucap Yuda sambil sesekali mengusap air matanya yang
telah
meleleh membasahi pipinya.
Baru pertama ini, aku melihat kesedihan yang mendalam di wajah Yuda, aku mengenal
Yuda sejak kecil, Ayahnya dan Papaku adalah sahabat karib, Ayahnya pengusaha
Properti dan ibunya adalah Dosen di perguruan tinggi di Jakarta dan mereka semua pun pindah ke Jakarta. Keluarga
mereka dahulunya sangat bahagia dan berkecukupan, sampai akhirnya ibunya divonis
kanker rahim yang hampir merenggut nyawanya dan harta bendanya pun digunakan
untuk pengobatan ibunya hampir 2 tahun ini, beruntung ayahnya segera membawanya
berobat ke Ausy, namun di sana penyakit ibunya Yuda dinyatakan memasuki stadium
lanjut, jadi kecil kemungkinan akan bisa disembuhkan. Mungkin karena
penyakitnya itu, membuat ibunya Yuda kesulitan dalam mengandung. Yuda sendiri
adalah anak tunggal, sama seperti denganku dan Kak Eros. Tante Liliana, ibunya
Yuda adalah orang keturunan Cina yang kemudian memeluk Islam, sebelum menikah
dengan Om Andi, ayah Yuda, Yuda adalah buah hati mereka berdua yang
ditunggu-tunggu hampir 3 tahun .
'Nis, kamu kenapa malah bengong. Kamu keberatan jika mendengarkan
ceritaku saat ini Nis? Aku benar-benar gelisah dan bingung, aku sangat
mencintai mamaku, tapi sekarang mamaku sedang tergolek lemah tak berdaya.
Padahal sebelumnya, mamahku selalu ceria, sehat dan
segar bugar. Penyakitnya telah merongrong tubuh mamaku hingga aku sendiri tak
tega melihat kondisinya secara langsung, wajah yang pucat, tubuh yang lemas', ucapan Yuda
mulai terisak dan membuyarkan lamunanku.
'Yud, maaf iya. Tadi aku memikirkan bagaimana keadaan tante
Liliana saat ini. Aku pun sangat khawatir Yud, aku berfikir, bagaimana jika aku
ikut kamu terbang ke Ausy, aku ingin melihat keadaan tante Liliana, pasti tante
senang melihatku datang ke sana, terlebih papahmu. Pasti Om Andi jadi tak
khawatir jika kamu terbang ke Ausy sama aku', pintaku pada Yuda.
'Kamu serius Nis? Kamu gak sedang menghiburku kan'?, tanya Yuda
seraya menunggu kepastian tawaranku padanya.
'Iya,
aku akan berangkat besok pagi denganmu dan segera memesan tiket pesawat
untuk keberangkatan besok pagi. Aku akan bicara sama mama
dan papaku saat ini juga, pasti mereka setuju. Karena ortuku dan ortumu
adalah sahabat
karib, jadi aku nanti pulang kos langsung berkemas-kemas membawa baju
dan
perlengkapan yang harus aku bawa selama 3 hari di Ausy, tapi maaf iya
Yud, aku tidak
bisa berlama-lama di sana,' ucapku.
'Nisa, perhatianmu yang luar biasa ini saja sudah membuatku senang,
terimakasih iya Nis', ucap Yuda, dengan refleks dia memelukku.
Ada perasaan yang aneh setelah perlakuan Yuda terhadapku. Jantungku
berdebar-debar dan kamipun melepas pelukan dengan perasaan canggung dan malu.
'Eh, sori Nis. Saking girangnya aku sampai tak sengaja memelukmu. Tolong maafkan aku iya Nis', ucap Yuda seraya meminta maaf padaku.
'Eh, sori Nis. Saking girangnya aku sampai tak sengaja memelukmu. Tolong maafkan aku iya Nis', ucap Yuda seraya meminta maaf padaku.
'E. .iya Yud, aku juga minta minta maaf', jawabku.
Setelah kejadian itu aku pun bergegas pamitan pulang. Tak lupa aku berpamitan pada Bik Inah
yang sedari tadi menungguku di lantai bawah.
Yuda sudah tak
sesedih tadi saat meneleponku, sekarang wajahnya justru kemerah-merahan menahan
malu atas perlakuannya tadi terhadapku. Jam di tanganku menunjukkan pukul 10
malam, tapi untunglah kosan belum terkunci karena masih ada beberapa teman
kosku yang masih sibuk menonton TV dan sebagian lagi masih sibuk ngobrol di
teras.
Aku pun segera
menuju lantai 2 kamarku sambil merebahkan tubuhku yang mulai lelah, tak lupa
aku memasang alarm jamku di angka setengah 5 pagi agar aku tak terlambat
menyiapkan segala kebutuhanku selama di Ausy.
Pagi
pun tiba,
aku bergegas mandi dan menyiapkan perlengkapan yang benar-benar aku
butuhkan.
Jam 8 pagi, Yuda menjemputku dengan supirnya. Tak lama, kami pun menuju
Bandara. Setelah beberapa jam mengudara akhirnya Pesawatpun mendarat. Di
sana, kami
dijemput supir suruhannya Om Andi dan kami diantar sampai rumah sakit.
Di depan
rumah sakit, Om Andi sudah siap menyambut kami dengan hangat walau
dengan wajah
yang sedih. Suasana haru terlihat di sana, Kami mulai bersalaman saling
berpelukan dan bergegas ke ruangan di mana Tante Liliana di rawat.
Sesampainya di depan ruangan, terlihat tante Liliana sedang terlelap
tidur. Karena takut mengganggu istirahatnya, kamipun sepakat menuju
Cafetaria rumah
sakit untuk mengobrol sejenak dan minum kopi, sesekali Yuda dan aku
menceritakan
perjalanan kami dari Jakarta menuju Ausy. Akupun
mulai bertanya sejauh mana
perkembangan tante Liliana, namun Om Andi tak kuasa menceritakan hal
yang sebenarnya terjadi. Hanya ucapan baik-baik saja dan minta doa yang
terlontar dari mulut Om Andi. Melihat ekspresi sedih Om Andi aku pun tak
kuasa untuk bertanya lebih lanjut lagi dan aku pun hanya diam menghela
nafas. Melihat kesedihanku itu, sesekali Om Andi gantian menanyakan kabar
orang tuaku dan bertanya tentang bisnis orang tuaku yang semakin bersinar. Satu
jam berbincang, kami bertigapun menuju ruangan Tante Liliana dan berharapa beliau telah bangun.
Sesampainya
di
sana benar saja, tante Liliana sudah bangun dan melihat wajah kami
dengan
seksama satu per satu. Ada haru dan tangis di sana, namun kami semua
terlihat
tegar agar tante Liliana tidak sedih dan sejenak melupakan keadaan yang
sebenarnya. Tante Liliana tersenyum, memeluk Yuda dan kemudian memelukku
sembari mendekatiku dan berbisik padaku.
'Nisa,
terimakasih
banyak iya sudah mengantarkan Yuda sampai kemari. Aku harap Yuda
berterus
terang kepadamu secepatnya, agar dia tidak menyesal karena telah
menunggumu lama, Kamu
memang anak yang baik Nis, Yuda memang sering bercerita tentangmu, namun
sejak tante sakit dan terbaring lemah di sini dia jarang bercerita
tentangmu lagi, tapi sekarang Yuda justru memberikan kejutan
istimewa dengan membawamu ke mari', ucap tante Liliana sambil tersenyum
dan memelukku lagi.
Aku pun tak
mengetahui apa maksud ucapan tante Liliana barusan yang jelas aku gembira bahwa tante
benar-benar tegar, tidak bersedih dan tak mau terlihat lemah di depan orang lain.
'Tante, Nisa
ndak tau maksud tante apa, oh iya dapat salam dari mama dan papa Nisa, mereka
minta maaf belum bisa jenguk tante di sini, mungkin lusa setelah mereka selesai
tur dalam rangka pameran budaya Nusantara', ucapku. Tante
Liliana hanya mengangguk dan tersenyum.
'Tante sudah
makan apa belum? Kalau belum, biar Nisa yang nyuapin tante, habis itu minum
obat iya', rayuku.
Ntah
mengapa tante Liliana mau aku suapin, makannya jadi lahap dan raut
wajahnya
berseri-seri tak mau menampakkan rasa sakit dari penyakit yang
dideritanya selama ini. Mungkin
kedatangan Yudalah yang membuat tante Liliana semangat untuk sembuh.
Setelah
makan, tante Liliana pun bertanya tentang kuliahku sekarang, panjang
lebar aku menceritakan hari-hariku selama kuliah dan kegiatanku selama
liburan. Yuda pun demikian, dia menceritakan keadaannya selama sendirian
di Jakarta tanpa orangtuanya. Sesekali kami terdengar tertawa
bersama-sama saat tante Liliana menceritakan masa kecil Yuda yang lucu
dan menggemaskan, yuda pun malu melihat kebiasannya saat kecil yang
masih terbawa saat ini yaitu takut gelap dan sesekali meminta mamanya
untuk menemaninya tidur saat lampu mati.
Jam dinding menunjujjan pukul 11 malam, dan tante Liliana bergegas untuk tidur. Aku dan Yuda gantian menjaga di rumah sakit dan Om Andi kali ini bisa tidur di hotel di seberang rumah sakit. Sesaat setelah tante Liliana terlelap tidur. Tiba-tiba Yuda menghampiriku dan berbicara kepadaku.
Jam dinding menunjujjan pukul 11 malam, dan tante Liliana bergegas untuk tidur. Aku dan Yuda gantian menjaga di rumah sakit dan Om Andi kali ini bisa tidur di hotel di seberang rumah sakit. Sesaat setelah tante Liliana terlelap tidur. Tiba-tiba Yuda menghampiriku dan berbicara kepadaku.
'Nis, ndak
salah aku mengenalmu selama ini dan mau menerima tawaranmu untuk bersama-sama ke sini, mamaku makannya jadi lahap banget,
padahal kata papa, mama beberapa hari ini sulit banget makan dan minum obatnya. Ntah
mengapa sejak kedatangmu tadi mamaku dengan semangat mau minum obat dan makan.
Terimakasih iya Nis, kamu memang is the best deh', puji Yuda sambil tersenyum malu.
'Yuda, mamamu
lahap makannya karena ada kamu dan Om Andi di sini. Bukan karena kedatanganku,
kalian adalah semangat hidup buat Tante Liliana', jawabku.
'Kamu selalu
baik dan menyenangkan Nis, tak heran jika mamaku sangat menyukaimu sejak kamu
kanak-kanak,' ucap Yuda polos.
'Apa Yud,
sejak kanak-kanak ?! Maksudnya ?, tanyaku.
'Ndak
apa-apa kok Nis, udah malam cepetan tidur. kamu tidur di kursi iya,
biar aku yang tidur di lantai. Aku selimutin kamu dulu, biar tidak
kedinginan',
ucap Yuda sambil menyelimutiku. Kamipun tidur.
Pagi
pun
menjelang dan aktifitas dimulai lagi, tak terasa tiga hari aku di Ausy
dan aku
pun bergegas pulang ke Indonesia. namun kali ini bukan aku saja yang
pulang, tetapi
Yuda, Tante Liliana dan Om Andy juga ikut pulang ke Indonesia. Ajaib,
sejak kedatanganku menjenguk tante Liliana, kondisi tante semakin
membaik dan kemungkinan bisa sembuh. Semangatnya untuk sembuh dan
berkumpul bersama-sama di Indonesi yang mendorong kesembuihan tante
Liliana. kami pun terbang ke jakarta.
(To be continue)